Satu
faktor yang bikin kita beda. Bisa bikin kita berkuasa, bikin bangga,
bikin sombong, tapi juga bisa bikin kita terhina, menderita, tertindas,
tersiksa dan bahkan mati.
Tentunya kita
semua telah menyadari, bahwa kehidupan di atas dunia ini pasti
terdapat tingkat-tingkat dalam segala aspeknya. Ada tingkatan dalam hal
-hal yang bersifat jasmani dan tentunya ada pula tingkatan dalam
hal-hal rohani. Dan jika kita nyatakan berdasarkan matranya maka
tingkatan itu akan dimulai dari yang paling rendah ke yang paling
tinggi atau sebaliknya. Walaupun begitu yang harus diingat adalah bahwa
kata paling di sini ternyata tidak pernah mutlak dan bahkan cenderung
relatif, sebab segala apa yang ada di muka bumi ini selalu dibatasi
oleh ruang dan waktu, sedangkan dalam sekilas penginderaan kita ruang
dan waktu itu sendiri adalah tanpa batas. Demikian pula harus kita
sadari bahwa tak ada yang akan dikatakan tinggi jika tidak ada yang
lebih rendah, begitu pula sebaliknya. Tak kan ada yang bisa dinilai
pandai jika tak ada yang lebih bodoh dan tak kan ada yang boleh dikata
kuat jika tak ada yang lebih lemah, tak bisa dikata terang jika tak ada
yang lebih gelap, demikian seterusnya untuk segala aspek kehidupan
pasti terdapat tingkatan atau gradasi. Kalaupun ada yang dianggap
paling tinggi, maka itu akan dibatasi dengan ; tentang apa, di mana,
kapan ? Yang jawabannya akan merupakan keterbatasan dari sesuatu yang paling
tinggi tersebut. Cobalah renungkan tentang hal kebenaran. Adakah yang
paling benar diantara semua ini ??? Adakah diantara kita yang merasa
tidak pernah bersalah?? Di sinilah perlunya kita saling menghargai
eksistensi dan kondisi diantara sesama manusia. Seseorang akan dianggap
sebagai presiden, raja atau bahkan kaisar, apabila ada rakyat atau
kawula yang mengakui dan mendukungnya, tanpa ada orang lain
disekelilingnya maka ia bukan apa-apa lagi.
Dengan
memahami makna terciptanya gradasi, akan membawa kita kepada suatu
sikap untuk tidak lagi mengumbar kesombongan, tidak melecehkan
orang/kelompok lain apalagi menindasnya. Memang tidak semua orang akan
membenarkan ini apalagi mempraktekkannya, karena status, posisi ,
kondisi , dan kebutuhan setiap orang tidak sama, tapi bukankah satu
kebenaran mulai kita temukan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar